BAB 1 : Pagi di Paya Laba


Kabut tipis masih menyelimuti Desa Paya Laba, merayap pelan di antara batang-batang kelapa dan celah dinding papan rumah sederhana itu. Di dalam kamar yang hanya dibatasi selembar gorden kusam, Arya mengerjapkan mata. Kesadaran belum sepenuhnya terkumpul, namun indranya sudah menangkap harmoni pagi yang akrab: denting sudit yang beradu dengan wajan di dapur dan aroma tumisan bawang yang menusuk hidung.

Hari ini bukan sekadar hari Senin biasa. Kalender di dinding ruang tamu, yang dipenuhi coretan tanggal panah, seolah berteriak bahwa hari ini adalah langkah pertamanya sebagai siswa SMA.

"Arya, sudah bangun, Nak?" suara Siti, ibunya, terdengar di balik dinding kayu yang tipis.

Arya bangkit, merenggangkan otot-ototnya yang masih terasa kaku. "Sudah, Bu," sahutnya serak.

Dari kejauhan, suara pengajian menjelang Subuh mulai terdengar sayup-sayup dari pengeras suara masjid, membelah kesunyian desa yang masih terlelap. Irama tilawah itu membawa ketenangan yang magis, seolah memberkati tanah Paya Laba sebelum matahari menjalankan tugasnya.

Siti muncul di ambang pintu dapur, tangannya masih memegang serbet. "Enggak shalat di masjid kamu, Nak? Ini hari pertamamu sekolah, bagus kalau dimulai dari rumah Allah."

"Iya, Bu. Ini Arya langsung berangkat," jawabnya patuh.

Arya segera menyambar handuk dan menuju kamar mandi di bagian belakang rumah. Air sumur yang dingin seperti es seketika melenyapkan sisa-sisa kantuknya. Setelah berwudu, ia mengenakan sarung dan baju koko putihnya yang paling rapi, lalu melangkah keluar menembus udara pagi yang menggigit.

***

Masjid Al-Ihsan berdiri kokoh di persimpangan desa, menjadi pusat spiritual bagi warga Paya Laba. Saat kaki Arya menapak di selasar masjid, muazin yang biasanya bertugas, Pak Haji Mansur, sang marbot, sedang sibuk merapikan sajadah. Begitu melihat sosok remaja itu, mata Pak Haji yang mulai merabun tampak berbinar.

"Arya? Kebetulan sekali kamu datang cepat. Sini, Nak, kumandangkan azan. Suaramu itu selalu bisa buat orang malas jadi bangun," ujar Pak Haji sambil menyodorkan mikrofon.

Arya sempat ragu, namun ia tak kuasa menolak permintaan sang sesepuh. Ia menarik napas dalam, memposisikan diri di depan pengeras suara, dan mulai melantunkan panggilan suci itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar...

Suaranya yang berat namun jernih, khas pemuda yang tengah mekar, mengalun indah ke seantero desa. Ada getaran emosi dalam setiap cengkokannya, sebuah kerinduan yang disampaikan lewat nada. Di rumah-rumah panggung di sekitar masjid, para jamaah yang mayoritas sudah berusia senja, generasi yang telah menghabiskan masa mudanya di sawah dan lading, segera bangkit. Suara azan Arya seolah memiliki daya magnet yang menarik mereka untuk segera merapatkan barisan di saf depan.

Selesai shalat Subuh berjamaah, Arya tidak berlama-lama. Ia mencium tangan Pak Haji dan beberapa tetua lainnya sebelum bergegas pulang. Tugasnya di rumah sudah menanti.

***

Sesampainya di rumah, Arya tidak langsung bersiap-siap. Ia menggulung lengan bajunya dan menuju kandang di samping rumah. Ayam-ayam kampung peliharaan mereka sudah riuh, mematuk-matuk pagar bambu minta dijatah. Dengan telaten, ia menyebarkan jagung giling ke tanah.

Di sudut lain, Lusi, adiknya yang kini duduk di kelas 2 SMP, sedang bergelut dengan tumpukan piring di bak cuci kayu. Rambutnya diikat kuda, wajahnya tampak serius menggosok sisa lemak di piring.

"Bang, jangan lupa kandang ayamnya dikunci lagi, nanti dicuri musang," teriak Lusi tanpa menoleh.

"Iya, Lu. Bawel amat," balas Arya terkekeh.

Setelah semua pekerjaan rumah tangga selesai, mereka bergantian mandi. Aroma sabun batang yang murah namun segar kini memenuhi ruangan. Di meja makan yang dialasi taplak plastik motif bunga yang sudah pudar warnanya, Siti telah menyiapkan sarapan: nasi putih dengan lauk sederhana hasil olahannya sejak buta tadi.

Mereka makan dalam diam yang hangat, sebuah ritual yang dijaga ketat oleh Siti agar anak-anaknya selalu berangkat dengan perut kenyang. Selesai makan, Arya masuk ke kamar untuk mengenakan seragam barunya. Putih-Abu-abu. Warnanya masih sangat cerah, kainnya masih kaku karena baru beberapa kali disetrika.

Siti masuk ke kamar sambil membawa tas sekolah Arya yang sudah agak usang. Ia memperhatikan putranya yang sedang sibuk merapikan kerah baju.

"Kamu masuk kelas inti di SMAN Unggul Kluet Raya itu?" tanya Siti tiba-tiba, suaranya mengandung harapan yang besar namun tersamar oleh nada datar.

Arya mengancingkan bajunya perlahan, matanya menatap cermin yang retak di sudut. "Enggak tahu, Bu. Dapat kelas X-O pun tidak mengapa, yang penting sekolah di sana."

Siti mengerutkan kening, tidak setuju. "Masak kelas X-O? Sedangkan kamu juara umum di SMP dulu. Ibu ingin kamu di kelas terbaik, supaya masa depanmu lebih jelas daripada Ibu."

Arya tersenyum tipis, mencoba meredam ekspektasi ibunya yang setinggi langit. "Iya, memang juara umum, Bu. Tapi sekolah saya dulu kan cuma SMPN 4 Kluet Timur. Sekolah kecil di pinggir hutan. Di SMA Unggul nanti, saingannya berat, Bu. Anak-anak dari kota, dari sekolah-sekolah hebat, semuanya kumpul di sana."

Siti menghela napas panjang, lalu mengelus pundak putra sulungnya itu. "Ya sudah, kelas berapa pun boleh. Yang penting kamu sekolah di sekolah unggulan itu. Biar orang-orang tahu kalau anak petani dari Paya Laba juga bisa bersaing."

Ia kemudian mengambil bungkusan kain berisi nasi dan lauk. "Ini untuk makan siang Ibu nanti di sawahnya Pak Ali ya. Ibu berangkat kerja di sana hari ini. Kalian kalau pulang sekolah langsung makan siang saja, sudah Ibu siapkan di tudung saji."

"Iya, Bu," jawab Arya dan Lusi serempak.

***

Matahari mulai mengintip dari balik bukit-bukit di Kluet, menyapu embun dengan sinarnya yang hangat. Arya mengeluarkan sepeda Federal tua kesayangannya. Sepeda itu adalah saksi bisu perjuangannya menempuh jarak berkilo-kilo meter sejak SMP, warnanya sudah banyak yang mengelupas, namun rangkanya tetap kokoh.

Lusi menyusul dengan sepeda mini berwarna pink yang memiliki keranjang di depan, tempat ia menaruh tas sekolahnya. Sementara Siti, dengan caping yang sudah bertengger di kepala, menuntun sepeda "unta" besar yang biasa ia gunakan untuk mengangkut hasil sawah atau sekadar transportasi menuju lahan kerja.

"Hati-hati di jalan, Arya. Jaga adikmu sampai persimpangan," pesan Siti.

"Siap, Bu!"

Ketiganya mulai mengayuh pedal. Roda-roda sepeda itu berputar di atas jalanan desa yang masih berbatu. Mereka bergerak bersama sejauh beberapa ratus meter sebelum akhirnya berpisah di pertigaan besar desa. Siti berbelok ke arah hamparan sawah yang hijau membentang, sementara Arya dan Lusi mengayuh ke arah jalan raya yang akan membawa mereka menuju masa depan.

Arya memandang punggung ibunya yang semakin menjauh. Ada beban berat yang tersampir di pundak Siti, dan Arya tahu, satu-satunya cara untuk meringankan beban itu adalah dengan membuktikan bahwa seragam putih-abu-abu yang ia kenakan hari ini bukan sekadar kain pelindung tubuh, melainkan jubah perjuangan.

Angin pagi menerpa wajah Arya saat ia mulai menambah kecepatan kayuhannya. SMAN Unggul Kluet Raya sudah menanti di ujung jalan, dan dengan setiap putaran roda sepedanya, Arya merasa debar jantungnya semakin kencang. Babak baru dalam hidupnya resmi dimulai.

Komentar