Postingan

BAB 1 : Pagi di Paya Laba

Kabut tipis masih menyelimuti Desa Paya Laba, merayap pelan di antara batang-batang kelapa dan celah dinding papan rumah sederhana itu. Di dalam kamar yang hanya dibatasi selembar gorden kusam, Arya mengerjapkan mata. Kesadaran belum sepenuhnya terkumpul, namun indranya sudah menangkap harmoni pagi yang akrab: denting sudit yang beradu dengan wajan di dapur dan aroma tumisan bawang yang menusuk hidung. Hari ini bukan sekadar hari Senin biasa. Kalender di dinding ruang tamu, yang dipenuhi coretan tanggal panah, seolah berteriak bahwa hari ini adalah langkah pertamanya sebagai siswa SMA. "Arya, sudah bangun, Nak?" suara Siti, ibunya, terdengar di balik dinding kayu yang tipis. Arya bangkit, merenggangkan otot-ototnya yang masih terasa kaku. "Sudah, Bu," sahutnya serak. Dari kejauhan, suara pengajian menjelang Subuh mulai terdengar sayup-sayup dari pengeras suara masjid, membelah kesunyian desa yang masih terlelap. Irama tilawah itu membawa ketenangan yang ma...